LALAT

Lalat di hidung. “Diantara tanda-tanda hati yang mati adalah tidak ada rasa sedih apabila telah kehilangan kesempatan untuk melakukan taat kepada Allah dan tidak juga menyesal atas perbuatan (kelalaian) yang telah dilakukannya.” Hati yang didalamnya hidup keimanan akan merasa sedih apabila iman dan taat hilang darinya.

Hati yang beriman itu sangat menyesal apabila melakukan maksiat. Sebaliknya, hati yang dihinggapi kotoran kemaksiatan tidak merasa sedih menjalankan perbuatan maksiat dan kotoran jiwa. Itulah hati yang mati dan buta. Hati yang terbuka oleh iman akan menunjukkan bunyi pada kalimat yang diucapkan seseorang. Halus, jujur, ikhlas dan tidak berbelit. Sebaliknya hati yang hitam tertutup oleh noda akan terbias dari semua kalimat yang diucapkan, tak bisa ditutup-tutupi. Hati yang beriman adalah hati yang hidup, sedang hati yang jauh dari keimanan adalah hati yang mati.
Hati yang hidup oleh keimanan menumbuhkan kebaikan dan ketaatan, sedangkan hati yang tertutup keimanan akan menumbuhkan keburukan dan kemasiatan.

Abdurrahman bin Mas’ud mengatakan: “Orang yang benar-benar beriman, ketika mengingat dosa-dosanya seperti ia duduk di dibawah gunung. Ia khawatir kalau-kalau puncak gunung itu jatuh menimpanya. Adapun orang munafik, ia memandang dosa-dosanya seperti menghalau lalat di ujung hidungnya.” Orang beriman selalu memandang dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan seperti beban yang sangat berat rasanya, ia khawatir dosa dan kesalahan akan membawa akibat yang sangat buruk serta menyiksa di akhirat kelak. Ia sangat berhati-hati. Kehati-hatian ini adalah cahaya iman yang masih bertahta dalam hatinya.

Adapun orang munafik menganggap dosa dan kesalahan yang pernah dibuatnya tidak mampu meruntuhkan kedudukannya atau merusak dan menganiayanya. Oleh karena itu, ia menganggap dosa sangat enteng baginya, tidak berarti apa- apa. Seperti mengusir lalat dari ujung hidungnya saja.